Oleh Ahmad Zaenal Abidin
11 April 2022
Itat Nuryati, nama pemberian orang tua dengan khas Sunda yang melekat, menempuh pendidikan di Universitas Gunadarma dan lulus pada tahun 1995. Setelah menyelesaikan studinya, ia memulai karier sebagai admin kredit di sebuah bank Swasta di Bogor pada tahun 1997.
Baginya, ini adalah sebuah bentuk pembuktian kepada dirinya sendiri bahwa sebagai seorang perempuan, ia bisa berkarya, mandiri, dan mengamalkan ilmu yang pernah dipelajari di sekolah.
Niat awalnya, karier ini tidak akan berlangsung lama. Cukup satu tahun bekerja lalu berhenti. Saat itu, ia hanya ingin mendapatkan pengalaman, mengabdi, dan melepas rasa penasaran terhadap dunia kerja yang selama ini belum pernah ia sentuh secara langsung.
Namun, pengalaman membuktikan bahwa manusia hanya bisa merencanakan dan berusaha, sementara hasilnya adalah wilayah keputusan Yang Maha Kuasa. Tanpa disangka, perjalanan kariernya di dunia perbankan bertahan hingga sembilan tahun lamanya
Selama berkarier, Itat berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Institut Bankir Indonesia (IBI) melalui sponsorship dari tempatnya bekerja.
Dari sana, ia mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman hebat yang ia rasakan. Mulai dari memahami peran seorang karyawan, menghadapi tantangan kepemimpinan, hingga merasakan iklim kompetisi dalam dunia perbankan. Bermuara pada pelayanan, ia merangkum semua rasa itu menjadi modul kehidupan dalam bisnis yang ia jalankan sekarang.
Salah satu kaidah yang ia tetap pegang teguh hingga sekarang adalah, pelayanan jasa itu tidak dapat diukur hanya dengan uang. Baginya, kepuasan pelanggan adalah bayaran terbesar dan pencapaian yang paling berharga.
Meskipun tidak pernah bercita-cita menjadi eksekutif, Itat akhirnya mencapai posisi direktur di sebuah bank swasta, sebuah pencapaian di luar ekspektasinya.
Namun, semakin tinggi posisinya, semakin ia menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah tentang dirinya sendiri, melainkan bagaimana mempertahankan nilai-nilai yang telah ia pelajari selama berkarier.
Seperti pepatah barat, “No pain, no gain,” yang sejalan dengan filosofi Sunda, “Mun hayang menang perah, kudu daek perih”, bahwa kesuksesan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
Namun, di balik kesuksesan profesionalnya, Itat merasakan kekosongan dalam hidupnya. Kesibukan bekerja membuatnya merasa ada ruang hampa yang semakin besar. Setelah banyak merenung dan berdiskusi dengan suaminya, ia memutuskan untuk kembali menekuni hobi lamanya, dunia kecantikan dan tata rias.
Dengan dukungan dari sang kakak yang memiliki salon, Itat mulai belajar dasar-dasar makeup dan memperdalam keterampilannya dengan mengikuti berbagai kursus kecantikan. Ia menantang dirinya sendiri, seperti saat pertama kali memasuki dunia perbankan.
Dari sana, ia menemukan kebahagiaan dan kepuasan, menyadari bahwa keterampilannya bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Ia selalu berpegang teguh pada filosofi, “Khoirunnas anfa’uhum linnas”, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Melalui Ditan Wedding, Itat menuangkan passionnya dalam menciptakan momen berkesan bagi para pengantin di hari istimewa mereka.
Memulai perjalanan sebagai perias pengantin, ia terus mengembangkan keahliannya hingga semakin dikenal dan dipercaya. Seiring dengan meningkatnya permintaan, ia mulai merambah ke dekorasi pernikahan, yang kemudian membuka jalan untuk menghadirkan layanan yang lebih luas. Dari sana, layanan yang ditawarkan terus berkembang hingga akhirnya mencakup paket pernikahan lengkap.
Kini, setelah lebih dari dua dekade, Ditan Wedding telah menjadi salah satu penyedia jasa pernikahan yang dikenal luas, menghadirkan layanan dengan kualitas terbaik.